ANALISA CAPITAL BUDGETING SEBAGAI ALAT UNTUK MENILAI KELAYAKAN RENCANA INVESTASI PEMBANGUNAN DUA TOWER GEDUNG ASRAMA MAHASISWA TELKOM UNIVERSITY

  • Ade Salman Alfarisi STIE INABA
  • Novi Chandra Darmawan STIE INABA
Keywords: Capital budgeting, Kelayakan Rencana,, Telkom University

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menilai kelayakan rencana investasi
pembangunan 2 (dua) tower gedung
asrama mahasiswa Telkom University
oleh perusahaan PT. Citra Sukapura
Megah dengan menggunakan metode
capital budgeting . Untuk memperkuat
pengambilan keputusan mengenai
rencana investasi tersebut, maka dalam
penelitian ini ditambahkan analisa
sensitivitas dan rasio keuangan.
Hasil penelitian dengan menggunakan
metode ARR diperoleh hasil 21%,
metode PBP diperoleh hasil waktu
pengembalian 5 tahun 2 bulan, metode
Discounted Pay Back Period diperoleh
hasil waktu pengembalian 7 tahun 7,5
bulan atau lebih pendek dari waktu
yang disyaratkan yaitu 8 tahun, metode
NPV menghasilkan NPV sebesar
Rp.3.467.797.955,-. Metode IRR
menghasilkan IRR sebesar 13,6%, atau
lebih besar dari suku bunga yang
disyaratkan 10,75%. Metode PI
menghasilkan PI 1,12. Berdasarkan
hasil penilaian tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa rencana investasi
layak untuk dilaksanakan. Hasil
penelitian dengan mengunakan analisa
sensitivitas diperoleh hasil :
a. jika pendapatan operasional turun
5%, maka mengakibatkan penurunan
NPV 70%. Ini berarti proyek sangat
sensitif/peka. Penurunan pendapatan
hanya boleh terjadi sampai batas 7,14%
sebelum proyek tersebut ditolak.
b. Diasumsikan jika beban manajemen
dan umum mengalami kenaikan 5%,
maka mengakibatkan penurunan NPV
40%. Ini berarti proyek cukup
sensitif/peka. Kenaikan beban hanya
boleh terjadi sampai batas 12,5%
sebelum proyek tersebut ditolak.

Author Biographies

Ade Salman Alfarisi, STIE INABA

Dr. Ade Salman Alfarisi, S.E., M.M. Pendidikan terakhir S3. Sekarang menjadi Dosen
Tetap di STIE INABA.

Novi Chandra Darmawan, STIE INABA

Novi Chandra Darmawan, SE., M.M. merupakan alumni mahasiswa Magister
Manajemen STIE INABA.

Published
2016-12-29